Breaking

Saturday, 14 April 2018

Ampun Bu, Aku Tidak Mau Cacat?

Ampun Bu, Aku Tidak Mau Cacat?

Kisah Sahabat, Hanyatauaja.com - Aku dilahirkan oleh orang tua yang tidak menginginkanku. Karena itulah, akhirnya aku diasuh oleh kakek dan nenekku dari ibuku. Padahal kakek dan nenekku itu orang yang tak mampu. Sekolah pun hanya sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Ilustrasi

Mulai saat SMP itulah, aku mulai kenal namanya ganja dan obat-obatan terlarang dan menjadi berandalan. Sampai suatu ketika, aku ketahuan minum-minuman keras dan ibu memukuli mukaku.

Aku melakukan semua itu sebagai pelarian karena perasaan kesalku selama ini. Aku merasa terlahir dari keluarga broken home yang tak pernah mendapatkan kasih sayang sama sekali dari orang tua.

Sampai suatu ketika, aku pulang kerja dan melihat ibuku sedang bincang-bincang sesama tetangga di pinggir jalan. karena sedang kesal, lalu kutendang saja dia karena aku sangat benci sama ibu yang telah menyia-nyiakanku dari bayi.

Tahun berganti tahun dan pada suatu ketika di tahun 2016, aku diberhentikan dari pekerjaan (PHK). Akhirnya aku melakukan profesi baru, yaitu menjadi pengabul togel di kawasan Cibinong. Di sinilah aku kenal bermacam-macam orang dan profesi, mulai dari preman sampai PSK dan lain-lainnya.

Hingga suatu ketika, ada kejanggalan pada kakiku yang menjadi bengkak dan sakit bila dibawa berjalan. Aku masih ingat, waktu itu Hari Raya Idul Fitri tahun 2017. dan satu minggu setelah Hari Raya Idul Fitri itu kakiku makin parah, menghitam dan membusuk seperti arang kayu.

Dokter pun terpaksa mengambil keputusan bahwa kakiku harus diamputasi sebatas mata kaki. Kata Dokter penyakitku akibat rokok.

Memang aku pecandu rokok. Bayangkan sehari bisa 4 bungkus rokok. Namun kupikir-pikir bukan karena rokok, mungkin semua ini karena aku telah membenci ibu dan pernah menendangnya.

Kini aku menjadi orang cacat dan sempat sedih atas nasibku ini. Di satu sisi aku sangat bersyukur atas kejadian ini, mungkin semua ini teguran dari Allah SWT. Dan Alhamdulillah aku telah sadar atas perbuatanku kepada ibu.

Saat ini, aku berpikir bagaimana pun perbuatannya kepadaku, dia tetap ibuku. Maka aku pun mulai akur sama ibuku walaupun tak seharmonis seperti orang lain sebagaimana layaknya hubungan anak dan ibu.

Semoga pengalaman ini dapat dijadikan pelajaran, khususnya buatku di masa depan kelak dan umumnya untuk pelajaran bagi yang membaca kisah ini di seluruh pelosok nusantara. Dan kalau boleh berpesan kepada para pembaca, Jangan pernah kamu sia-siakan orangtuamu atau ibumu. Sejelek apa pun ibu kita, dia tetap ibu kita yang sebenarnya.

Hanyatauaja.com I Membaca Agar Lebih Tau
http://lapak.hanyatauaja.com/
Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact