http://www.tipsgratisbola.com/campaign/

Hadiah-Hadiah Untuk Para Pencela

Thursday, 1 March 2018
Advertisement
Kisah Sahabat, Hanyatauaja.com - Peristiwa ini terjadi kurang lebih enam tahun yang lalu. Kala itu, bibiku yang kondisi ekonomi keluarganya kurang berkecukupan terpaksa harus tinggal dulu di rumah mertuanya. Ternyata bukan keluarga bibiku saja, adik iparnya pun tinggal di sana bersama suaminya.

Ilustrasi

Sejak awal, si T (Adik ipar bibiku) memang tidak suka dengan bibiku. Entah karena anak-anak bibiku sangat disayangi mertuanya atau karena bibiku menumpang di rumahnya.

Kedengkian si T semakin lama kian terlihat. Ia sering marah-marah dan melemparkan semua pekerjaan di rumah ke bibiku, mulai dari berbenah rumah, memasak hingga mencucui baju. 

Dalihnya sebagai ganti bayaran ia menumpang di rumah tersebut. Bahkan, tak jarang, kata-kata kotor keluar dari mulut si T. Celaan, ejekan yang bertubi-tubi terus menimpa bibiku layaknya pembantu yang terus menjadi bulan-bulanan tuannya. Lebih dari itu, ia tega menghasud anak-anak bibiku untuk membenci ibunya sendiri.

Di matanya, bibiku selalu tampak bersalah. Ada saja omelan atau sindiran tajam yang menimpanya, Padahal, saat itu, bibiku hanya sekedar melintas ke belakang untuk mencuci piring atau ke kamar mandi, namun bibi hanya diam dan bersabar. Ia pasrah karena merasa menumpang. Demikianlah cerita bibiku saat aku bersilaturrahmi ke rumahnya.

Siapa menanam kejahatan kelak akan menuai kejahatan juga. Hal itu terbukti, selang beberapa tahun kemudian, ketika aku kembali bertandang ke rumah bibi, aku melihat suatu keganjilan pada diri T. Ia sungguh berbeda dari sebelumnya.

Sikapnya yang sombong dan sok kuasa tak terlihat, bahkan ia sempat mau beranjak ke dalam ketika aku dan ayah tiba di sana. Namun, karena ayah terlanjut melihatnya dan ingin bersalaman akhirnya ia mau tak mau menyambut kedatangan kami.

Sepanjang perbincangan antara ayah dan mertua bibiku, si T hanya diam dan sesekali membenarkan letak anaknya di pangkuannya. Seperti menutupi sesuatu pikirku. Tiba-tiba saja raut wajahnya berubah merah, ia terlihat menahan malu karena aku mendapati anak perempuan di pangkuannya berbibir sumbing. Kemudian ia menjauh dan lebih banyak diam.

Kata bibiku, ketika aku tanyakan perihal anak tersebut, mungkin hal tersebut akibat perlakuan si ibunya sendiri (si T) sehingga berbalas ke anaknya. Kebiasaan T yang sering mencela dan mencaci maki berbuah celaan dan cacian yang menimpanya dirinya sendiri.

Mudah-mudahan kisah ini bisa dijadikan pelajaran bagi semua orang yang membacanya, khususnya untuk mereka yang masih berbuat jelek dan suka mencela.