http://www.tipsgratisbola.com/campaign/

Akibat Menghina Tukang Becak, Sebuah Kisah Nyata

Thursday, 1 March 2018
Advertisement
Kisah Sahabat, Hanyatauaja.com - Pengalaman ini terjadi pada tahun 1998 ketika saya bekerja sebagai pelayan toko Emas. kebetulan sekali, bos saya mempunyai tukang becak langganan. Dialah yang setiap hari selalu antar jemput bos saya.

Tukang Becak

Suatu hari, tukang becak itu cerita kepada bos saya kalau dia naksir salah satu pelayan toko emasnya dan ingin memperistrinya.

"Siapa?" tanya bos saya penasaran. "Ella"! jawabnya tegas menyebut nama saya. Kontan saja teman-teman saya mengejek dan saya langsung marah dan berkata, "Amit-amit deh punya suami tukang becak! Hidupnya pas-pasan dan menyuruh istrinya nanti menjadi TKW. Setelah itu, hasil jerih payah istrinya akan dibuat kawin lari!"

Mungkin Allah mencatat ucapan saya waktu itu. pada tahun 2000, bulan September, saya berkenalan dengan teman sepupu dan bekerja di toko kain. Obrolan kami pun terasa klop hingga 2 bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 11 November 2000, kami menjadi sepasang kekasih. Setelah itu, pada tanggal 28 Desember 2001, kami pun resmi menikah.

Singkat cerita, kehidupan rumah tangga kami tidak ada kendala, dan 8 bulan kemudian saya hamil. Lantaran mengandung, saya pun tak sanggup lagi bekerja hingga akhirnya saya berhenti. Saya pun menggantungkan hidup murni dari hasil kerya payah suami saya bekerja.

Sayang, gajinya tak mencukupi kehidupan kami. Suami saya pun berhenti kerja dan bilang pada saya kalau dia mau menjadi tukang becak. Karena terpaksa, saya pun menyetujuinya. Namun sayang, tabungan kami hanya cukup untuk membeli becak bekas.

Pada saat-saat itulah, saya kaget dan terbayang-bayang ucapan saya dulu yang mungkin menyakitkan hati tukang becak langganan bos saya. Di dalam hati, saya bertanya-tanya pada, "Ya Allah, apakah ini karmaku karena menghina pekerjaan orang itu?"

Kendati demikian, saya tetap bersyukur. Saya malah minta ampunan Allah atas apa yang kukatakan dulu. Terlebih, suami saya rajin kerja dan ibadah. Alhamdulillah sekarang kami sudah punya rumah sendiri, dan anak saya yang berumur 3 tahun pun tidak kurang suatu apapun. 

Maafkanlah hamba-Mu ini, ya Allah, yang telah menghina ciptaan-Mu! Semoga kisah saya ini bisa menjadi pelajaran untuk yang membacanya.