http://www.tipsgratisbola.com/campaign/

Si Jenius Muslim Ini Rupanya Perintis Rumus Trigonometri

Monday, 12 February 2018
Advertisement
Penemu, Hanyatauaja.com - Trigonometri, yang berasal dari bahasa Yunani dengan arti "pengukuran tiga sudut", merupakan salah satu rumusan dalam ilmu Matematika yang menjelaskan tentang sudut segitiga dan fungsi-fungsi trigonometriknya, yakni sinus, cosinus, dan tangen.

Abul Wafa Muhammad Al-Buzjani ( Foto @Source )

Riwayat trigonometri sejatinya sudah diterapkan di sejumlah perdaban besar di masa silam, seperti Mesir Kuno, Babilonia, dan peradaban Lembah Sungai Indus di India. Namun, orang yang dianggap sebagai peletak dasar rumus trigonometri secara ilmiah justru berasal dari Timur Tengah. Tokoh jenius itu adalah salah seorang cendekiawan Muslim yang bernama Abul Wafa Muhammad Al-Buzjani.

Abu Wafa Muhammad Al-Buzjani dilahirkan di Persia (sekarang menjadi negara Iran), tepatnya di Kota Buzjan, Provinsi Nishapur pada 1 Ramadhan 328 Hijriah atau 10 Juni 940 dalam penanggalan Masehi.

Sosok panutan Al-Buzjani yang membuatnya tertarik mempelajari ilmu Matematika hingga kemudian mampu merumuskan metode trigonometri adalah dua orang pamannya yang bernama Abu Amr al-Mughazili dan Abu Abdullah Muhammad ibn Anbasa.

Tahun 959 M, Al-Buzjani pergi ke kota pusat ilmu pengetahuan Timur Tengah, yaitu ke Baghdad demi memperdalam pengetahuannya.

Di kota yang sekarang menjadi pusat peradaban negara Irak itu, Al-Buzjani mempelajari banyak sekali sumber ilmu pengetahuan, baik yang berupa naskah atau literatur maupun berinteraksi dan berdiskusi secara langsung dengan kaum cerdik pandai di sana.

Al-Buzjani tidak hanya mempelajari bidang Matematika saja selama bermukim di Baghdad, melainkan juga cabang-cabang ilmu pengetahuan yang lainnya, seperti ilmu astronomi dan sains.

Kecermelangan Al-Buzjani ternyata menarik perhatian pihak kerajaan yang berkuasa di Baghdad. Al-Buzjani kemudian dipercaya untuk memimpin observatorium yang didirikan di taman kota.

Observatorium itu berfungsi sebagai laboratorium untuk mengamati bintang dan benda-benda langit lainnya dengan menggunakan teropong. Hasil pengamatan Al-Buzjani ternyata sangat akurat, demikian pula analisisnya yang dinilai cukup berbobot dan menjadi pijakan bagi para ilmuwan di era berikutnya.

Di ranah ilmu astronomi, Al-Buzjani memberikan sumbangsih yang sangat berguna seperti penentuan waktu terbit dan terbenamnya matahari, perkiraan masa berlangsungnya musim, dan melencengnya bumi dari garis ekliptikanya. Selain itu, ia juga mempelajari pergerakan bulan. Bahkan, nama depannya, Abul Wafa, diabadikan untuk menamai salah satu kawah yang terdapat di bulan.

Pamor Al-Buzjani semakin terangkat setelah ketika memperkenalkan metode trigonometri yang merupakan salah satu cabang dalam ilmu Matematika yang berinduk pada geometri.

Ia mengembangkan fungsi tangen dan merumuskan metode untuk menghitung tabel trigonometri. Metode tabel sinus yang dibuat Al-Buzjani sangat memudahkan pemecahan rumus trigonometri. Al-Buzjani menemukan relasi identitas trigonometri dengan rumusan sebagai berikut :


Selain itu, Al-Buzjani juga berhasil menemukan rumus sinus untuk geometri sferik. Rumusan Al-Buzjani yang tampak serupa dengan hukum sinus itu adalah sebagai berikut :


Karya-karya Al-Buzjani dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan yang disesuaikan dengan cabang ilmu yang ia kuasai. Pertama, Al-Buzjani hanya berperan sebagai orang yang menjelaskan teori-teori atau hukum-hukum yang sudah dicetuskan oleh ilmuwan sebelumnya.

Salah satunya adalah penjelasan mengenai aljabar yang dirumuskan oleh tiga ilmuwan dari latar belakang dan negara yang berbeda. Beberapa karya Al-Buzjani yang tergolong dalam kategori pertama ini antara lain buku yang berjudul Abarchos dan Al-Khawarizmi.

Kedua, buku panduan untuk mereka yang memakai prinsip-prinsip geometri dalam pekerjaannya, semisal para perancang bangunan atau arsitek. Al-Buzjani memaparkan metode penghitungan untuk berbagai jenis bentuk bangunan, termasuk segiempat, lingkaran dan segitiga.

Buku-buku panduan yang pengerjaannya didukung penuh oleh pihak kerajaan itu di antaranya adalah Al-Handsa (Geometri Terapan), Al-Kitab Al-Kamil (buku Lengkap), dan Ilm Al-Hisab (Buku Praktis Aritmetika). Semua kitab itu menjadi rujukan bagi para pelajar geometri, bahkan digunakan sebagai acuan untuk penghitungan pajak dan dagang.

Wujud karya Al-Buzjani yang ketiga adalah kitab-kitab pemikirannya di bidang astronomi yang menjadi buku referensi bagi para astronom di masa setelahnya. Beberapa judul buku Al-Buzjani yang membahas ilmu astronomi antara lain al-Majesty dan al-Zayj.

Di dalam buku-buku itu di antaranya berisi mengenai kalender astronomi yang menjadi acuan para ilmuwan untuk meneropong bintang dan benda langit lainnya, gerakan bintang, dan perubahan yang terjadi secara tiba-tiba. Al-Buzjani wafat di Baghdad, pada 997 M.