http://www.tipsgratisbola.com/campaign/

Membagi Rumah & Harta Bersama

Saturday, 3 February 2018
Advertisement
Curhat, Hanyatauaja.com - Sekarang ini saya sedang menjalani sidang cerai yang diajukan oleh suami saya. Kalau soal perkawinan kami, memang sudah tidak mungkin dipertahankan lagi, karena sudah bertahun-tahun di antara saya dan suami tidak ada keharmonisan.

Ilustrasi Sengketa Harta Bersama ( Foto @Source )

Tapi yang menjadi masalah adalah soal rumah yang merupakan gono-gini kami dan sudah kami tempati selama puluhan tahun.

Rumah tersebut dibangun di atas tanah yang merupakan harta bawaan suami saya. Jadi yang merupakan harta gono-gini hanya bangunan rumah dan perabot seisi rumah.

Walaupun hubungan kami tidak harmonis, saya masih tinggal di rumah tersebut karena saya tidak mempunyai tempat lain. Suami saya mengatakan bahwa kalau nanti urusan cerai kami selesai, maka saya harus keluar dari rumah itu.

Saya mempunyai hak gono-gini terhadap rumah tersebut, bagaimana cara saya mendapatkannya?

Diatas curhatan dari Sobs Hanyatauaja.com dari Jakarta.

Ketentuan mengenai harta bersama bagi suami dan istri yang akhirnya bercerai adalah janda atau duda cerai hidup, masing-masing berhak seperdua dari harta bersama sepanjang tidak ditentukan lain dalam perjanjian perkawinan (Pasal 97 Kompilasi Hukum Islam).

Jika harta bersamanya berupa barang-barang yang mudah dibagi, misalnya uang atau perhiasan emas, tentu tidak terlalu merepotkan. Tapi apabila harta bersamanya berupa bangunan rumah yang dibangun di atas harta bawaan suami, maka ini agak susah dibagi secara apa adanya.

Oleh karena itu sebaiknya selesaikan saja secara kekeluargaan. Anda bisa meminta suami untuk membayar sejumlah uang atau barang lain yang senilai dengan separoh harta bersama.

Misalnya bangunan rumah itu ditambah dengan barang harta bersama yang lain nilainya dua ratus juta rupiah, maka suami harus membayar kepada Anda uang sejumlah seratus juta rupiah, atau bisa juga suami memberi Anda berupa barang yang nilainya sebesar seratus juta rupiah.

Tergantung dengan kesepakatan Anda berdua, dan penyelesaian secara kekeluargaan ini tentu lebih baik daripada harus diselesaikan ke pengadilan.

Jika cara ini tidak berhasil, baru Anda ajukan ke pengadilan, dan nanti pengadilan yang akan memberikan putusan, dan dalam pelaksanaan putusan nanti (setelah ada permohonan eksekusi), mau dibagi secara in natura ataukah dijual lelang. Yang jelas, kesempatan berunding untuk diselesaikan secara musyawarah antara para pihak tetap terbuka.