http://www.tipsgratisbola.com/campaign/

Kritik Pedas Berbuah Pedih

Sunday, 11 February 2018
Advertisement
Kisah Sahabat, Hanyatauaja.com - Sebenarnya peristiwa ini cukup memalukan, namun mengingat hikmah yang bisa dipetik (terutama sekali untuk diri saya), maka saya mencoba ingin menuliskannya untuk para sobs hanyatauaja.com.

Ilustrasi ( Foto @Source )

Pada tahun 2005 lalu, tepatnya pada bulan Maret. Ketika itu, istri saya tengah melakukan shalat sunnah Ba'diyah Maghrib, saya melihat ibu jari kaki kanannya tidak menekuk menghadap kiblat sebagaimana mestinya.

Hati saya menggerutu melihatnya. Betapa tidak, selama sekian tahun menjadi muslimah kenapa istri saya menekuk jempol kaki kanannya saja tidak bisa.

Karena itulah, seusai dia shalat, saya langsung mengkritiknya habis-habisan dengan bahasa yang memerahkan telinga. Saya langsung mencap bahwa shalatnya tidak sempurna. Saya katakan bahwa tidak sepantasnya untuk orang yang telah belasan tahun mengerjakan ibadah shalat, tetapi tidak mampu menekuk ibu jari kaki kanannya. Istri saya sendiri hanya bisa terdiam.

Tiga hari setelah mengatakan hal itu, kejadian memalukan sekaligus memilukan menimpa diri saya. Sepulang dari kantor terjadi sesuatu yang saya tidak duga-duga. Saat itu, saya hendak memarkir motor di tempat yang lumayan sempit, yakni di antara lemari piring dan mesin cuci.

Dengan tidak sengaja, kaki kanan saya menyentuh knalpot yang masih teramat panas. Kontan saja, kaki kanan saya reflek menjingkrak dan akibatnya ibu jari kaki kanan saya tertekuk sedemikian rupa hingga nyerinya terasa sampai ke ubun-ubun.

Lebih dari dua minggu ibu jari kaki kanan saya tidak sanggup ditekuk menghadap kiblat. Semakin dipaksa semakin ngilu di sekujur kaki kanan saya.

Lalu saya menyadari bahwa ini adalah buah dari kritik pedas saya yang sangat egois. Sebab, belakangan saya tahu kalau jempol kaki kanan istri saya itu memang ada cacat ringan sehingga tak bisa ditekuk. Selama ini, ia memang tak memberitahu saya keadaan jempolnya tersebut.

Karena itulah, saya sungguh-sungguh minta maaf kepada Allah dan kepada istri saya, karena kritikan saya tanpa didasari latar belakang yang jelas.

Sekarang saya berusaha sekuat tenaga untuk tidak sembarangan mengutarakan sesuatu yang belum jelas sebab musababnya. Saya takut kualat.