Agen Poker Terpercaya

http://www.tipsgratisbola.com/campaign/

Buah Dari Kesabaran Dan Kejujuran

Thursday, 22 February 2018
Kisah Sahabat, Hanyatauaja.com - Rasanya tidak asing di telinga kita kalau penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) selalu terselip isu yang tidak sedap. Mulai dari isu harus punya backing orang dalam sampai isu sejumlah uang sogok agar bisa lolos menjadi CPNS.

Ilustrasi

Isu seperti ini sempat membuatku pesimis untuk mendaftar CPNS, sebab saat itu, aku adalah seorang pengangguran. Aku tak punya uang untuk menyogok, apalagi backing-an.

Satu tahun selepas lulus kuliah di kota kembang, yaitu pada awal tahun 2000 yang lalu, harapanku untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil begitu besar.

Apalagi kedua orang tuaku sangat mengharapkanku menjadi Pegawai Negeri. Di tengah isu-isu tersebut, aku meyakinkan diri sendiri bahwa aku harus mampu menjadi PNS. Tentunya dengan tetap berikhtiar dan yakin akan pertolongan Allah.

Selama satu hingga dua tahun berjalan, aku gagal mengikuti tes CPNS di kota kembang. Kegagalan ini sempat membuatku down, karena tersiar kabar bahwa yang diterima menjadi CPNS adalah yang memakai uang sogokan. Teman-temanku pun banyak yang frustasi.

Pada tahun 2002, ada berita tentang penerimaan CPNS kembali. Pada waktu itu, aku memilih untuk mengikuti tes di daerah. Dengan harapan peluangnya bisa lebih besar. Di daerah pun peminatnya cukup banyak juga.

Di antara calon-calon pelamar tersebut adalah teman-teman satu angkatan sewaktu kuliah dulu. Belum lagi kakak-kakak dan adik-adik sesama alumnus perguruan tinggi yang berniat menjadi CPNS. 

Persaingannya cukup ketat. Pelamar ada sekitar lebih dari 600 orang, sedangkan yang akan diterima cuma satu orang. Nyaliku menciut kembali dengan kondisi seperti ini. Tapi kekuatan dalam diriku tumbuh kembali untuk mengikuti tes tersebut.

Ikhtiar terus kulakukan. Aku berkumpul kembali dengan teman-teman satu angkatan untuk mencari dan membahas berkas-berkas soal CPNS dari tahun-tahun yang lalu.

Godaan demi godaan menjelang tes CPNS berusaha meruntuhkan kekuatan imanku. Para calo yang katanya punya backing-an pejabat berusaha merayuku untuk mengikuti jalan pintas dengan menyediakan sejumlah uang yang harus kuserahkan.

Yang tak kalah hebatnya, ada teman orang tuaku yang sengaja datang ke rumah. Dengan bahasa yang meyakinkan, beliau berusaha merayu orang tuaku untuk menyediakan sejumlah uang agar aku dapat menjadi seorang PNS karena dia punya backing kuat seorang pejabat di Jakarta.

Orang tuaku yang lugu dan polos sempat terayu dan meminta persetujuanku untuk menerima uluran tangan temannya. Orang tuaku pun sanggup untuk mencarikan pinjaman uang demi kelulusanku demi aku menjadi PNS.

Hatiku pun bergejolak. Di lain pihak, aku ingin membahagiakan orang tuaku, sementara di pihak lain, aku tidak mau memakai cara seperti itu. Kemudian aku pun memantapkan hati dan berkata kepada kedua orang tuaku,

"Pak, Bu, selama ini aku telah diberi makan, dididik, dibesarkan, dari mulai dalam kandungan hingga besar seperti sekarang ini dengan cara yang halal. Apakah Bapak dan Ibu Ridha kalau aku balas kebaikan Bapak dan Ibu dengan lulus CPNS dengan cara yang haram?"

Mendengar ucapanku, ibuku menangis dan akhirnya membatalkan niatnya untuk memberikan sejumlah uang kepada calo teman bapakku. Tepat di hari tes CPNS, iringan doa kedua orang tuaku dan kemantapan hatiku bersama Allah adalah yang menggerakkan penaku untuk menjawab soal-soal tes CPNS.

Tak kuhiraukan hiruk pikuk teman-temanku yang saling menyontek satu sama lainnya. Bahkan ada yang langsung menyodorkan lembar jawaban ke bangku.

Aku tak tergoda untuk menyalin lembar jawaban tersebut karena aku yakin dengan jawabanku sendiri. Syukur Alhamdulillah, ketika hasil tes CPNS diumumkan di harian Pikiran Rakyat, hatiku seakan tak percaya karena satu nama yang tertera di surat kabar tersebut adalah namaku.

Akhirnya, kuyakin dan bersyukur kepada Allah bahwa ini adalah buah dari kesabaran dan sikapku yang jelas terhadap hal yang dilarang Allah. Semua ini atas pertolongan Allah SWT dan doa dari orang-orang yang kucintai. 

Mudah-mudahan, cerita ini menjadi pelajaran untuk yang membacanya, khususnya untuk mereka-mereka yang ingin menjadi seorang PNS.