http://www.tipsgratisbola.com/campaign/

Kisah Para Guru Dengan Gaji Rp. 1000,- / Per Hari Di Bengkulu

Monday, 15 January 2018
Advertisement
WOW, Hanyatauaja.com - Suasana khas desa yang benar-benar masih asri dimana ada terdapat banyak Sawah yang mengelilingi, kolam ikan dan juga terdengar gemercik air dari sungai masih bisa dirasakan di Desa Tik Teleu, Kecamatan Pelabai, Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu pada hari Selasa 9/1/2018.

Guru Di Sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTs) Zikir Pikir, Bengkulu ( Foto@kompas.com )

Di desa yang cukup juah dari ibu kota itu ada 1 sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTs) Zikir Pikir yang dirintis para pemuda setempat yang sempat merasakan pendidikan perguruan tinggi, mulai dari gelar strata sampai dengan master.

Sekolah yang dibangun di tahun 2011 itu kondisinya benar-benar memprihatinkan. Setengah dari gedung di sana hanya terbuat dengan papan dan semen, sedang untuk plafonnya rusak pada beberapa bagian. Gedung itu adalah pinjaman dari pemerintahan desa. Ada sebanyak 38 siswa dan juga 8 guru sebagai tenaga pengajar.


Dwifa, seorang guru wanita sekaligus juga salah satu pendiri sekolah, menyebut jika sekolah itu dibangun karena dasar kekhawatiran tingginya angka putus sekolah di desa tersebut. "Jarak sekolah yang begitu jauh dari dosa, angka putus sekolah dari SD pun menjadi semakin tinggi. Kami akhirnya berkumpul dan mencoba untuk mendirikan sekolah madrasah," Dwifa mengkisahkan.

2 tahun berjalan dari tahun 2011 hingga 2012 ada sebanyak 14 tenaga pengajar. Selama 2 tahun 14 guru itu tidak mendapatkan gaji sama sekali.


"Dua tahun pertama tidak ada guru yang mendapat gaji. Hanya mengajar seikhlasnya saja. Alhamdulillah semua guru masih bertahan." ujar Dwifa.

Kemudian masuk pada tahun 2013 sampai 2015, barulah para guru mulai mendapat gaji dari Kementerian Agama. dananya diambil dari Bantuan Operasional Siswa (BOS).

"Tahun 2013 sampai 2015 gaji yang didapat per bulan sekitar Rp. 30.000 dibayar setiap tiga bulan. Tiga bulan mendapat Rp. 90.000. Gaji itu berlanjut sampai dengan tahun 2016, barulah ada kenaikan menjadi Rp. 100.000 per bulan." ucapnya


Dwifa mengaku selain menjadi guru untuk sekolah yang dirintisnya bersama-sama dengan banyak orang itu, ia dengan suami juga mempunyai pekerjaan lain, yaitu sebagai petani.

"Menjadi guru di sini adalah bentuk kekhawatiran kami atas kondisi kampung halaman. Jadi, tidak perlu memikirkan berapa gaji yang didapat. Untuk kehidupan sehari-hari, saya dan juga suami menjadi petani," jelasnya.

Hiriani, guru lainnya, menyebut jika ia adalah guru yang paling junior lantaran ia baru bergabung 6 bulan di sekolah tersebut. Ia mengaku menjadi guru di sekolah itu atas panggilan hatinya kepada kecintaan dirinya pada kampung halamannya.


"Saya hanya berharap pengetahuan yang dimiliki dari perguruan tinggi bisa dipergunakan untuk para remaja di desa," ungkap Hiriani.

Dirinya tidak mempermasalahkan mengenai gaji yang didapatkan hanya Rp. 100.000 setiap bulannya. Hal yang sama juga dijelaskan Sukamdani, Kepala Sekolah MTs Zikir Pikir. Sukamdani mempunyai gelar master pada bidang Agama Islam. Tawaran untuk menjadi dosen pada beberapa perguruan tinggi pernah ia terima, namun ia justru lebih memilih untuk kembali lagi ke kampung halamannya.


"Angka putus sekolah, ancaman kenakalan remaha, dan juga kejahatan itu terjadi lantaran kurangnya pendidikan agama, hal itulah yang kemudian menjadi pertimbangan kami untuk mendirikan sekolah agama di desa ini," ucapnya.

Sukamdani menyebutkan, saat ini sekolah itu mempunyai tanah kurang lebih 1 hektar untuk sebagai wakaf dari masyarakat. Akan tetapi, pihaknya masih belum bisa memanfaatkan tanah itu lantaran terkendala biaya pembangunan gedung.

"Semoga pemerintah bisa segera merespons kebutuhan pembangunan gedung madrasah dan juga fasilitas sekolah agar lebih dilengkapi sesuai dengan kebutuhan para siswa," ujar Sukamdani.

Yuk gaes dibantu dishare sebanyak-banyaknya postingan ini semoga dengan banyaknya dishare postingan ini bisa sampai ke pemerintah dan sekolah ini bisa segera mendapatkan bantuan.