Agen Poker Terpercaya

http://www.tipsgratisbola.com/campaign/

Canda Membawa Petaka

Tuesday, 9 January 2018
Kisah Sahabat, Hanyatauaja.com - Peristiwa ini terjadi pada Juli 1994 kala saya bertugas di sebuah instansi Militer di kota Ende Flores, Nusa Tenggara Timur. pada suatu hari, ketika mengamati pengaspalan jalan dan halaman di depan kantor, Saya bercanda dengan rekan saya bernama Joni: "Kon, meskipun jalan dan halaman kantor kita ini di aspal rata, akan tetapi tetap tidak rata." Joni heran dan bertanya, "Lho kenapa begitu?" Saya menjawab, "Coba lihat, walaupun jalannya rata diaspal, pekerjanya tetap jalan miring."

Ilustrasi ( Foto @Source )

"Oh itu! Tentu saja, wong pekerjaannya pincang, mana bisa berjalan lempeng. Tapi ngomong-ngomong Bapak sama halnya mengejek saya."

Saya kaget dan tersadar kalau orang yang saya ajak bicara itu juga pincang. Saya menyesal akan canda ini dan langsung minta maaf padanya.

Pada sore harinya, saya, istri dan anak saya berangkat ke pelabuhan Ende untuk menumpang kapal laut tujuan Surabaya guna mengantar anak saya melanjutkan kuliah di Yogyakarta. Saat itu, suasana di dermaga pelabuhan penuh sesak dengan para calon penumpang. Maklum, waktu itu, Ende adalah satu-satunya kota di Pulau Flores yang disinggahi kapal penumpang Km Kelimutu. Setelah penat menunggu berjam-jam, akhirnya kapal dari Kupang yang ditunggu-tunggu datang.

Setelah seluruh penumpang tujuan Ende turun, penumpang jurusan arah Surabaya dan sekitarnya menyerbu tangga masuk kapal, termasuk saya, istri dan anak saya. Manusia tidak terkendali, petugas pelabuhan tidak dapat berbuat banyak untuk mengaturnya.

Pada saat itulah, tiba-tiba, saya berada di ujung tangga kapal. Kaki saya tidak dapat bergerak karena terhimpit pada calon penumpang. Saya berusaha mengangkat kaki tetapi tidak bisa karena terhimpit koper bawaan saya sendiri dan para calon penumpang lainnya.

Kaki saya tepat pada sisi roda tangga kapal, pada saat itulah saya rasakan roda tangga kapal bergerak menekan kaki saya karena gelombang laut. Saya berusaha mengangkat kaki untuk menghindari roda tangga kapal, tetapi tidak berhasil. Akhirnya terjadi petaka yang menimpa saya. Kaki saya tergilas oleh roda tangga kapal yang berbentuk silinder besi sebesar tiang telepon.

Saya merasakan kedua ibu jari kaki saya pecah disusul dengan telapak kaki sebelah kiri yang juga pecah. Saya teriak sekeras mungkin, tapi tak seorang pun menghiraukan saya. Lebih kurang satu menit, kaki saya tergilas oleh tangga itu. Selanjutnya ketika tangga kapal bergeser ke arah laut karena gelombang, kaki saya baru dapat terbebas. Saya pun ditolong oleh beberapa orang dan dibawa ke poliklinik kapal guna mendapat pengobatan sementara berupa obat merah dan diperban.

Pada saat itulah, saya merenung. Diantara ribuan penumpang, tak seorang pun dari mereka yang terkena musibah kecuali saya sendiri yang terkena petaka. Saya jadi teringat canda tadi pagi. Kiranya, Allah memberi peringatan kepada saya untuk tidak mengejek atau menghina orang lain meskipun hanya dengan bercanda.

Astagfirullah, saya taubat, saya memohon ampun pada-Nya dan meminta maaf kepada rekan saya Joni. Karena petaka yang menimpa saya ini, saya menjadi penyandang cacat pincang lebih kurang 1 bulan lamanya.