Breaking

Monday, 22 January 2018

Akibat Takabur Dalam Prediksi

Akibat Takabur Dalam Prediksi

Kisah Sahabat, Hanyatauaja.com - Sekecil apapun kemampuan kita, harusnya bersandar pada keyakinan bahwa semuanya sudah diatur Allah SWT. peristiwa ini terjadi 34 tahun yang lalu. Saat itu, aku mengikuti dinas suamiku sebagai Sinder Tebu di sebuah pabrik gula di Madiun.

Ilustrasi Pendarahan ( Foto @Source )

Aku dikenal teman-temanku sebagai orang yang akurat menebak kelahiran anak-anakku. Enam anakku lahir tepat di tanggal yang aku perkirakan. Bahkan beberapa jam sebelum melahirkan, aku sudah memanggil bidan atau dukun bayi. Akupun juga selalu tepat bila di minta memprediksi kelahiran anak-anak temanku. Itu semua membuatku jadi takabur.

Tapi tidak dengan anak ke tujuhku. Prediksiku meleset. Allah menegurku. Bungsuku lahir seminggu sebelum waktu yang kuperkirakan. Saat itu, di rumah hanya ada anak-anakku yang masih kecil dan ibu mertua yang sudah sepuh. Tentu saja aku bingung, apalagi saat itu sudah pukul 11 malam dan bungsuku sudah meronta-ronta ingin keluar.

Untunglah suamiku segera datang dari lembur dari masa giling tebu. Dengan tergopoh-gopoh, suamiku menjemput dukun bayi terdekat. Butuh waktu satu jam untuk membangunkan si dukun, karena kebetulan dukun bayi tersebut baru selesai menolong dua persalinan. Setelah menolong bayiku keluar, Subhanallah, air-arinya tak mau ikut keluar. Si dukun bayi pun tak bisa berbuat banyak.

Suamiku pun menghubungi dokter pabrik. Sial, dokternya sedang dinas keluar kota. Atasan suamiku menganjurkan agar aku dirujuk ke rumah sakit kota. Kata Dokter Ali yang merawatku, nyawaku hampir tak tertolong. Terlebih, dalam perjalanan ke rumah sakit, aku pingsan karena kehabisan banyak darah.

Allah benar-benar mengujiku. Selama stau hari, aku harus menjalani transfusi darah yang prosesnya tidak mulus. Infus itu berhasil masuk di pergelangan kakiku setelah kesulitan menembus vena di lengan tanganku.

Itu pun belum cukup, tiga kantorng darah belum juga membuatku pulih. Kala itu, untuk mendapatkan golongan darah AB sangat sulit. Persediaan di PMI pun habis.

Allah masih menolongku. Dokter berinisiatif membeli darah dari tukang becak yang biasa mangkal di depan rumah sakit tersebut. Alhamdulillah, darahnya bersih dan sehat.

Lagi-lagi Allah masih menolongku. Tukang becak itu tidak meminta imbalan atas darahnya. Padahal dia bisa minta harga tinggi. Untuk itu aku pun bisa lolos dari maut.

Di balik kealpaanku karena takabur. Allah masih menolongku. Subhanallah, jika aku tidak bisa bertahan, siapa yang akan merawat suami dan anak-anakku? Sekarang, aku tidak berani sesumbar lagi. Aku bahkan tidak berani memprediksi kelahiran cucu-cucuku. Aku cukup bersyukur bisa menyaksikan anak-anakku dan cucu-cucuku tumbuh sehat. Terlebih, menyaksikan bungsuku mendampingi anaknya yang kini berusia tiga tahun. Alhamdulillah.

Hanyatauaja.com I Membaca Agar Lebih Tau
http://lapak.hanyatauaja.com/
Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact